Yang Baik-baik belum tentu dapat yang baik

Postingan kali ini dikutip dari buku AKKnya @tweetnikah, sekedar sharing dan mengingatkan aja😀 dimulai yaaaaa🙂

Yang Baik – Baik Belum Tentu Dapat Yang Baik

Loh? Bukankah Tuhan sudah “menjanjikan” di Kitab Suci kalau yang terbaik akan dapat yang baik juga?

Wanita – wanita yang keji adalah untuk laki – laki yang keji, dan laki – laki yang keji adalah buat wanita yang keji (pula), dan wanita – wanita yang baik adalah untuk laki – laki yang baik dan laki – laki yang baik adalah untuk wanita – wanita yang baik (pula)… (QS. An Nuur:26)

Sebenarnya ayat itu merupakan satu kesatuan dalam beberapa rangkaian ayat, bahkan ayat ke – 26 itu masih ada lanjutannya yaitu…

… Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Bagi mereka ampunan dan rezeki yang mulia (surga). (QS. An Nuur:26)

Jadi ayat diatas merupakan 1 paket ayat yang bersambung tidak hanya putus pada kalimat “untuk wanita yang baik” tetapi masih berlanjut dengan bahasan tentang “tuduhan” dan juga “ampunan”.

Artinya ayat ini sebenarnya diturunkan dalam konteks tertentu dalam sebuah peristiwa. Menurut sejarah, berikut adalah penyebab turunnya ayat tadi;
Ayat ini diturunkan untuk menunjukkan kesucian istri Nabi yaitu Aisyah. Pernah suatu ketika dalam suatu perjalanan kembali dari sebuah perjalanan perang, Aisyah terpisah tanpa sengaja dari rombongan karena mencari kalungnya yang hilang. Beliau kemudian diantarkan pulang oleh salah seorang lelaki. Kejadian ini dijadikan momen oleh musuh Nabi untuk membuat dan menyebarkan fitnah dengan menuduh Aisyah telah berbuat khianat. Kemudian Tuhan menurunkan ayat ini dalam satu paket surat yang dimulai dengan kalimat:

Sesungguhnya orang – orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga… (QS An Nuur: 11)

Dan diakhiri dengan

… Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Bagi mereka ampunan dan rezeki yang mulia (surga). (QS. An Nuur:26)

Sekarang saatnya Anda bergegas untuk membuka Kitab Suci dan membaca rangkaian  ayat dan terjemah yang dimaksud. Dalam menetapkan standar untuk mencari jodoh, ayat tadi boleh saja dipakai. Hanya saja yang harus dipahami bahwa itu bukanlah janji Tuhan.
ini berbeda kalau kita bandingkan dengan ayat lain yaitu QS. An Nuur: 3

“Laki – laki yang berzina tidak mengawini melainkan perempuan yang berzina, atau perempuan yang musyrik; dan perempuan yang berzina tidak dikawini melainkan oleh laki – laki yang berzina atau laki – laki musyrik”.

Dalam ayat ini lebih tegas memerintahkan untuk mencari pasangan yang sepadan dan larangan untuk menikahi calon pasangan yang tidak baik. Sehingga ayat pertama tadi bisa dimengerti sebagai sebuah motivasi/anjuran untuk mengondisikan dan bukan sebagai ketetapan bahwa yang baik akan pasti mendapatkan pasangan yang baik.

Ini dituliskan untuk meluruskan makna ayatnya dan agar tidak menjadi kekecewaan ketika seseorang mendapatkan pasangan yang tidak seperti dirinya dan mempertanyakan sesuatu yang menurut mereka adalah janji Tuhan padahal bukan.

Atau mereka yang baik – baik tetapi mendapatkan pasangan yang tidak baik, lantas menganggap dirinya orang yang tidak baik. Lebih parah lagi, orang yang buruk akhlaqnya jadi pede ketika mendapatkan pasangan baik karena menganggap dirinya toh sana baiknya dengan pasangannnya.

Pada kenyataannya, banyak kita lihat disekitar kita orang yang mendapatkan pasangan yang sama sekali berbeda dari dirinya. Dirinya baik dan shaleh, mendapat pasangan yang suka berbuat jahat dan maksiat.

Sebenarnya ada yang sangat pas menjelaskan bagaimana pasangan suami istri belum tentu kualitasnya sama seperti dirinya. Ketika lelaki baik – baik mendapatkan istri yang malah punya sifat sebaliknya:
Tuhan membuat istri Nuh dan istri Luth sebagai perumpamaan bagi orang – orang kafir. Keduanya berada dibawah pengawasan 2 orang hamba yang saleh diantara hamba – hamba Kami; lalu kedua istri itu berkhianat kepada suaminya (masing – masing).
Maka suaminya itu tiada dapat membantu mereka sedikitpun dari (siksa) Tuhan; dan dikatakan (kepada kedua istri itu): “Masuklah ke dalam jahanam bersama orang – orang yang masuk (jahanam).” (QS. At Tahrim:10)

Ini menceritakan bahwa istri Nabi sekalipun bisa jadi penghuni jahannam. Dan ayat selanjutnya yang menceritakan seorang istri yang baik namun mendapatkan suami yang zalim:Dan Tuhan membuat istri Fir’aun perumpamaan bagi orang – orang yang beriman, ketika ia berkata: “Ya Tuhanku, bangunkanlah untuk ku sebuah rumah disisi-Mu dalam surga firdaus, dan selamatkanlah aku dari Fir’aun dan perbuatannya, dan selamatkanlah aku dari kaum yang zalin”. (QS. At Tahrim:11)

Dalam ayat ini juga ditegaskan kalau ini adalah sebuah contoh dan perumpamaan bagi orang yang beriman ketika mendapatkan pasangan yang tidak sebaik dirinya.

“Jadi apa gunanya memantaskan dan memperbaiki diri kalau gitu? Toh gak pasti juga dapat pasangan yang baik”. Mungkin Anda akan berpikir seperti itu. Tentu saja dengan memantaskan diri, Anda akan lebih siap dan sabar menghadapinya, seperti sabarnya Nabi Nuh, Luth, dan istri Fir’aun menghadapi pasangannya.

Sumber: http://www.tweetnikah.com @tweetnikah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s