Ayah…

Emang gak pernah habis kalo cerita tentang ayah, ada aja yang membuat saya terharu dan bahagia. Andai waktu bisa diulang, saya pengen kecil lagi #loh😀

Mulai darimana ya? Hmm~ gimana kalo mulai dari balita🙂
Aslinya saya memang anak bungsu, cewek pula. Otomatis perhatian ayah (dan ibu) saya (lebih banyak) tercurah ke saya. Tapi itu menurut abang dan kakak saya ya bukan saya🙂 Karena menurut saya, perhatian ayah (dan ibu) sudah adil.
Waktu balita saya masih ingat, setiap mau makan malam saya meminta ke ayah buat menyuapi. Bukan karena manja tapi karena sayanya yang males makan😀 jadi mau tidak mau ayah harus menyediakan waktunya untuk menyuapi saya setiap malam. Nah, kalo ayah yang menyuapi.. menunya itu harus ada sayuran, padahal saya tidak suka sayur. Dan mau tidak mau harus makan sayur, harus! Selain sayur, ayah juga memberikan kecap diatas nasinya. Enak, lezat, dan so sweet😀🙂

Beranjak SD, saya tetap diawasi oleh ayah. Memang ayah terlalu memperhatikan saya sampai – sampai abang dan kakak merasa ‘tersaingi’. He`em, saya dibilang “anak emas”😀 seberharga itukah saya? Lupakan itu…
Selama menjalani masa pendidikan di SD, saya memang lebih sering dianter ayah dan pulangnya bersama ibu. Pada saat itu abang dan kakak saya sudah SMP, jadi gak ada yang bisa menemani saya untuk pulang. Sampailah dikelas 6 SD, perjuangan ayah untuk mengantarkanku sekolah selesai. Saya masih ingat, tiap pagi sekita pukul 06.30 WIB kami harus berangkat dari rumah dengan menggunakan sepeda. Jarak rumah – sekolah sangat jauh saat itu, karena kami baru pindah rumah. Jarak rumah – tempat kerja ayah lebih sangat jauh, butuh waktu 2 jam untuk sampai kesana. Selalu menangis jika ingat ini, kenapa? karena hanya saya sebagai anaknya yang tau, betapa letihnya mendayung sepeda dengan jarak sejauh itu. Karena itulah saya tidak pernah melanggar kewajiban seorang anak. Saya tau perjalanan ayah sangat sulit sebagai kepala keluarga, saya hargai itu sampai sekarang. Terkadang saya sering menangis sendiri dikamar kalo mengingat ini.

Ketika SMP dan SMA saya berangkat sekolah sendiri, iya.. saya mulai belajar mandiri. Dan ayah sudah memberikan kepercayaan kepada saya untuk pergi sendiri. Maklum orangtua, jadi takut anaknya kenapa – napa🙂 Alhamdulillah, sampai lulus gak pernah ngerepotin. Ada sih sekali, pas SMP tuh. Ayah dipanggil guru gara – gara saya gak gambar bangun ruang. Gurunya lebay #eh *astaghfirullah.

Dan sekarang, disaat usia saya mulai mencapai tingkat Wanita Dewasa *ehem. Saya tetap menjadi objek pengawasan ayah. Saya sangat mengerti keinginan beliau, beliau tidak ingin kecewa lagi. Sampai saat ini saya terus mencoba mengerti keinginan beliau. Ayah sempat berpesan,”Dek, jadi anak yang berbakti ya. Jangan kayak yang lain, jangan tiru yang gak baik. Harapan ayah tinggal sama adek. Tolong jangan kecewakan ayah-ibu”. Sejak saat itu, saya mulai menjaga jarak dengan hal – hal yang bisa membuat saya down, salah satunya CINTA yang tak halal. Karena itu, saya jarang murung selepas putus cinta atau patah hati. Saya punya kewajiban, saya punya tanggungjawab, jangan hanya gara – gara cinta saya mengecewakan orang yang saya sayang. Saya gak mau itu, saat ini saya hanya ingin membahagiakan orangtua saya. Untuk masalah hati, biar Dia yang tau. Dia lebih paham mana yang terbaik untuk hambanya, saya yakin.. Dia akan mengirimkan seseorang di waktu yang tepat. Di saat saya benar – benar siap🙂 Percaya dan yakin kepadaNya🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s