Aku sayang ayah

“Seorang lelaki tampan, lelaki yang pertama di lihat, lelaki pelindung saat bahaya mendekat.. Dialah Ayah :)”

Pada tanggal 16 Agustus 1989, lahirlah seorang anak perempuan. Ketika itu cuaca sedang hujan deras, jam sudah menunjukkan pukul 19.30 WIB. Ibu sudah tidak tahan untuk melahirkan bayi yang ada di dalam perutnya. Yang meronta – ronta minta keluar karna ingin melihat seseorang yang telah mengandungnya selama 9 bulan 10 hari yaitu Ibu.

“Ayaaaah, sakit sekali”. Begitulah teriakan ibu, karna anaknya yang tidak sabar untuk segera keluar dari perutnya. Dan ingin bermain bersama kakak dan abangnya. Ibu tetap menahan sakit, sedangkan ayah sudah panik sambil beres – beres mempersiapkan perlengkapan yang harus dibawa ke klinik. Selesai beres – beres, ayah mencari kendaraan untuk membawa ibu ke klinik. Ayah memanggil tetangga yang berprofesi sebagai tukang beca motor.

“ayo bu, kita ke klinik” Ajak ayah kepada ibu sambil menggendong ibu yang sudah tidak sanggup berjalan lagi.
“sini, pelan – pelan. Hati hati, di” kata tetangga yang telah siap mengantarkan ibu ke klinik.

Sepanjang perjalanan, ayah terlihat sangat panik dan berusaha menenangkan ibu yang sedang kesakitan. Saat itu, hujan semakin deras. Ditambah lagi ada petir yang lumayan kuat.
“ayaaah, sakit” begitu keluh ibu.
“sabar bu, udah dekat kok” jawab ayah untuk menenangkan ibu yg meringis kesakitan.

Sesampainya di klinik, ayah langsung menggendong ibu. Ayah menyerahkan ibu kepada bidan yang telah siap – siap membantu proses kelahiran sang putri kecil. Kurang lebih pukul 20.45 WIB, lahirlah anak perempuan. Dia tidak menangis, ayah juga heran kenapa anaknya yang satu ini tidak menangis. Kemudian Perawat langsung memandikan putri kecil itu, selesai dimandikan perawat memberikan bayi mungil itu kepada ayahnya. Ayah langsung meng’iqomah’kan aku.

Suara itu lembut sekali, saat itu aku hanya bisa memejamkan mata dan menikmati alunan suara ayah. Sangat hangat dipelukan ayah, aku merasa nyaman dan terlindungi. Beda saat aku masih berada di dalam perut ibu. Aku berteman dengan usus – usus, darah, daaann uuhh.. seram sekali.

Ayah meletakkan ku di samping ibu.
“mirip ayah ya” kata ibu sambil mengelus – elus pipiku yang masih merah.
“anak kita jagoan, bu. Dia ga nangis loh. Hebat kan” kata ayah sambil mengusap – usap keningku.

Tanpa terasa, putri kecil itu sudah tumbuh menjadi gadis yang sangat – sangat mandiri, keras kepala, kadang egois tapi lebih sering mengalah untuk kakaknya.

“Yah, besok adek mau pergi sama tia ke miki holiday. Bolehkan yah?” tanyaku pada ayah dengan jantung berdegup kencang. Takut ayah tak memberikan izin kepadaku.
“Boleh, siapa aja yang pergi?” jawab ayah kepadaku. Aku langsung mengelus dada karna lega mendapatkan izin dari ayah.
“yang pergi adek, tia, pacarnya tia, sama temen 1 pesantrennya dulu. Jadi 4 orang yah, kami naik angkot kesana” jawabku dengan nada ceria.
“oh, yauda. Jadi ngumpulnya dimana, dek?”
“ngumpulnya di depan pesantren tia yah”
“yauda, besok ayah antar ya”
“iya yah” jawabku mengakhiri percakapan itu.

***

“adek udah siap?” Tanya ayah padaku
“udah yah” jawabku
“ayok ayah antar” kata ayah sambil mengeluarkan motor keberuntungannya.
“Bu, adek pergi dulu” sambil mencium tangan ibu.
“iya, hati – hati ya dek” kata ibu. “iya bu” jawabku singkat. Dan aku langsung naik ke motor ayah untuk menuju ke  tempat yang kami janjikan.

Di jalan, aku berbincang – bincang dengan ayah. Bercanda bersama, tertawa dan sama – sama mendengarkan. Aku tidak terlalu fokus dengan cerita ayah, karna pikiranku melayang entah kemana. Bukan memikirkan pacar atau yang lain, tpi memikirkan ayahku.
“Ayah, aku beruntung menjadi anakmu. Ayah benar – benar menjagaku, menyayangiku. Aku ngerti kenapa ayah melarang ku bepergian dengan orang yang baru ku kenal, itu pasti untuk kebaikanku. Aku tau, ayah trauma dengan kejadian sebelumnya. Maafkan aku yang belum mengerti ayah. Aku sayang ayah” begitulah gumamku dalam hati sambil tetap menyimak cerita ayah.

Beberapa menit kemudian, sampailah aku dan ayah di tempat yang dikatakan tia. Aku langsung turun. Tetapi ayah tidak langsung pulang, ayah menemaniku menunggu kedatangan tia dan pacarnya. Ya Allah, betapa baiknya ayahku ini. Kami bercerita, aku bertanya tentang bangunan – bangunan yang ada disitu.

“dek, udah lama nunggu” kata tia kepadaku yang baru saja sampai di tempat.
“lumayanlah, 30menitan” jawabku
“dek, kalo gitu ayah pulang yah. Nanti hati – hati”
“iya yah” jawabku sambil mencium tangan ayahku. Dan kemudian ayah bergegas pulang kerumah.

***

Aku dan Tia menunggu kedatangan pacar dan temannya yang sekarang ada di pesantren. Lumayan lama kami menunggu mereka, sampai – sampai tia kesal dan ngomel – ngomel ga jelas. Huft, dasar cowok.

“ih, ayah lama kali sih” kata tia kepada pacarnya.
“biasa nda, urusan cowok” jawab pcar tia.
“urusan cowok.. urusan cowok.. huuu” jawab tia sambil manyun
“iya maaf, nda” bujuk pacarnya sambil mengelus – elus kepala tia.

Tia dan pacarnya sudah pacaran selama 4 tahun, mereka berpacaran sejak di pesantren. Mereka punya panggilan sayang, yaitu ayah dan bunda. Ya bgtulah cerita singkat Tia dan pcarnya.

Setelah lama menunggu angkot, akhirnya dapat juga. Kami langsung naik dan mengambil tempat duduk masing – masing. Aroma dalam angkot sungguh tak mengenakkan, membuatku ingin muntah tapi aku tahan. “Ya Allah, masih lamakah aku di dalam sini?” gumamku dalam hati.

***

Akhirnya kami sampai di miki holiday yang harus menempuh 2 jam perjalanan, melelahkan sekali. Kami langsung membeli tiket masuk. Dan bermain dengan wahana yang bermain dengan degupan jantung. Tia saja sampai menangis karna takutnya. Sedangkan pacarnya tertawa melihat Tia menangis. Memang lucu saat Tia menangis, seperti anak kecil yang ditakut – takutin dengan seekor serangga menjijikkan.
Ga terasa sudah 5 jam kami berada disitu. Bermain dengan wahana sudah, poto – poto juga sudah, makan juga sudah. Semua sudah aman. Kami keluar dari miki Holiday dan langsung menuju tempat untuk menunggu angkot.
Hampir setengah jam kami menunggu, dan Alhamdulillah akhirnya dapat. Kami langsung naik dan duduk. Dan lagi lagi, aroma tidak sedap itu tercium. Sepertinya aku terancam akan muntah.

***

Sampai juga di medan, huft.. setelah aku hampir muntah di dalam angkot. Sumpah ga tahan sama aromanya.

Aku langsung menelpon ayah yang sedari tadi sudah sms. Ternyata di medan hujan deras, jalanan sudah banjir. “Ya ampun, gimana ini. Atau aku pulang naik angkot saja” begitulah yang ada dipikiranku.
Tak lama kemudian, ayah kembali menelpon.
“adek, tunggu aja disitu ya. Ini ayah lagi dijalan mau jemput” dengan suara yang agak keras dan panik.
“iya yah” jawabku singkat krna sudah kedinginan dan mau muntah.

Setelah 30 menit aku menunggu, ayah akhirnya sampai dan kami langsung pulang di dalam keramaian hujan. Di seperempat perjalanan kami, tiba – tiba motor ayah berhenti. Kami menepi di sebuah ruko. Dan lagi – lagi aku tak sampai hati melihat perjuangan ayah untuk menjagaku, tanpa ku sadari airmataku jatuh. Tapi ayah tak mengetahui itu, karna muka ku bercampur dengan air hujan.
Setelah selesai membetulkan motornya, ayah langsung menyuruhku untuk naik dan kami pulang. Sampai dirumah, aku langsung mengganti bajuku yang sudah basah dan berkumpul bersama keluarga untuk merayakan ulangtahun adikku, Hafiz.

Aku bangga punya seorang ayah sepertimu, benar – benar menjaga aku seperti sebuah bunga yang tak boleh disentuh siapapun. Ayah, aku berjanji tidak akan mengecewakanmu. Aku sayang ayah🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s